Bloggerberdatu

Showing posts with label pertanian & perkebunan. Show all posts
Showing posts with label pertanian & perkebunan. Show all posts

7/16/13

budidaya cabay

CABAI HIBRIDA SISTEM MULSA PLASTIK
Dewasa ini bertani cabai hibrida sistem mulsa plastik hitam perak (MPHP) banyak dipraktekkan pada cabai Hot Beauty, Hero, Long Chili, Ever-Flavor dan cabai Paprika. Dimungkinkan pula pada usahatani cabai keriting hibrida maupun cabai kecil (rawit, cengek) hibrida. Alasan utama sistem MPHP digunakan pada cabai-cabai hibrida adalah untuk mengimbangi biaya pengadaan MPHP dari peningkatan hasil cabai yang lebih tinggi daripada cabai biasa, sehingga secara ekonomis menguntungkan. Budidaya cabai hibrida dengan sistem MPHP merupakan perbaikan kultur teknik ke arah yang intensif. Pada umumnya sistem budidaya cabai di sentra-sentra produksi cabai masih menggunakan benih lokal dan populasi tanaman per hektarnya tinggi. Populasi yang sangat rapat ini dapat mengakibatkan penangkapan sinar matahari setiap tanaman berkurang dan kelembaban udara di sekitar kebun menjadi tinggi. Kelembaban yang tinggi seringkali dapat meningkatkan serangan hama dan penyakit. Perbaikan kultur teknik budidaya cabai secara intensif untuk meningkatkan produksi maupun kualitas hasil, diantaranya adalah penggunaan benih unggul dari varietas hibrida yang bermutu tinggi, penerapan MPHP, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, serta cara-cara lain yang khas seperti pemasangan turus dan perempelan tunas ataupun daun. Kegiatan pokok teknik budidaya cabai hibrida sistem MPHP meliputi :
Penyiapan Lahan

Dalam budidaya cabai hibrida sistem MPHP, penyiapan lahan harus didahulukan, kemudian disusul dengan penyiapan benih atau pembibitan. Maksudnya agar tanah sebagai media tanam benar-benar telah matang dan layak ditanami. Sebaliknya, bila pembibitan didahulukan, maka penyiapan lahan akan terburu-buru, sehingga tanahnya belum matang benar dan bibit sudat terlanjur tua. Bibit cabai hibrida umumnya siap dipindahtanamkan dari persemaian ke lapangan (kebun) pada umur 17 - 23 hari (berdaun 2 - 4 helai). Bila bibit terlambat dipindahtanamkan (terlanjur tua), pertumbuhan kurang optimal dan produksinya menurun (rendah).
Persyaratan lahan untuk kebun cabai hibrida sistem MPHP adalah :
  • Tempatnya terbuka agar mendapat sinar matahari secara penuh.
  • Lahan bukan bekas pertanaman yang sefamili, seperti kentang, tomat, terung taupun tembakau ; guna menghindari risiko serangan penyakit.
  • Lahan yang paling baik adalah berupa tanah sawah bekas tanaman padi, agar tidak perlu membajak cukup berat.
  • Lahan tegalan (tanah kering) dapat digunakan, asal cukup tersedia air.



IKLIM DAN TANAH
Syarat Iklim

Pada umumnya cabai dapat ditanam di dataran rendah sampai pegunungan (dataran tinggi) + 2.000 meter dpl yang membutuhkan iklim tidak terlalu dingin dan tidak terlalu lembab. Temperatur yang baik untuk tanaman cabai adalah 240 - 270 C, dan untuk pembentukan buah pada kisaran 160 - 230 C. Setiap varietas cabai hibrida mempunyai daya penyesuaian tersendiri terhadap lingkungan tumbuh. Cabai hibrida Hot Beauty dan Hero dapat berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi + 1200 m dpl. Sedangkan cabai hibrida Long Chili lebih cocok ditanam pada ketinggian antara 800 - 1500 m dpl. Khusus untuk cabai Paprika umumnya hanya cocok ditanam di dataran tinggi. Kisaran temperatur optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman paprika antara 210 - 250 C, sedangkan untuk pembentuk-an buah memerlukan temperatur 18,30. Cabai paprika tidak tahan terhadap intensitas cahaya matahari yang tinggi karena dapat menyebabkan buah seperti terbakar (sunburn) dan juga hasil akhir bobot buah akan sangat rendah. Pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, tanaman paprika akan mengalami gugur tunas, gugur bunga dan buah muda, serta ukuran buah sangat kecil. Meskipun cabai paprika umumnya cocok ditanam di dataran tinggi, tetapi dapat pula dikembangkan di dataran menengah mulai ketinggian 600 m dpl; yakni dengan cara memanipulasi lingkungan. Alih teknologi budidaya paprika di dataran menengah antara lain menggunakan sungkup beratapkan plastik bening (transparan).


Syarat Tanah

Hampir semua jenis tanah yang cocok untuk budidaya tanaman pertanian, cocok pula bagi tanaman cabai. Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi, cabai menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya akan organik, tidak mudah becek (menggenang), bebas cacing (nematoda) dan penyakit tular tanah. Kisaran pH tanah yang ideal adalah antara 5.5 - 6.8, karena pada pH di bawah 5.5 atau di atas 6.8 hanya akan menghasilkan produksi yang sedikit (rendah). Pada tanah-tanah yang becek seringkali menyebabkan gugur daun dan juga tanaman cabai mudah terserang penyakit layu. Khusus untuk tanah yang pH-nya di bawah 5.5 (asam) dapat diperbaiki keadaan kimianya dengan cara pengapuran, sehingga pH-nya naik mendekati pH normal.
Beberapa angka pH tanah (reaksi tanah), terdiri atas :
  • Paling masam (< 4.0)


  • Sangat asam (4.0 - 4.5)
  • Asam (4.5 - 5.5)
  • Agak asam (5.5 - 6.5)
  • Netral (6.5 - 7.5)
  • Agak basa (7.5 - 8.5)
  • Basa (8.5 - 9.0)
  • Sangat basa (9.0).

  • Pada pH tanah asam, ketersediaan unsur-unsur Fosfor, Kalium, Belerang, Kalsium, Magnesium dan Molibdinum menurun dengan cepat. Pada pH tanah basa akan menyebabkan unsur-unsur Nitrogen, Besi, Mangan, Borium, Tembaga dan Seng ketersediaannya relatif menjadi sedikit. Cabai yang ditanam pada tanah asam pada umumnya keracunan unsur Alumunium (Al), Besi (Fe) dan Mangan (Mn). Sebaliknya pada pH basa, jumlah unsur bikarbonat cukup banyak untuk merintangi penyerapan ion lain, sehingga dapat menghalangi pertumbuhan tanaman secara optimum.


    PERSIAPAN LAHAN DAN TANAM

    Tahapan pengolahan tanah dilakukan dengan tata cara sebagai berikut :
    • Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman sebelumnya.
    • Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 30 - 40 cm, kemudian dikeringkan selama 7 - 14 hari.
    • Tanah yang sudah agak kering segera dibentuk bedengan-bedengan selebar 110 - 120 cm, tinggi 40 - 50 cm, lebar parit 60 - 70 cm, sedangkan panjang bedengan sebaiknya lebih dari 12 meter. Khusus pada tanah yang banyak mengandung air (mudah becek), sebaiknya parit dibuat sedalam 60 - 70 cm.
    • Di sekeliling lahan kebun cabai dibuat parit keliling selebar dan sedalam 70 centimeter.
    • Pada saat 70% bedengan kasar terbentuk, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang (kotoran ayam, domba, kambing, sapi ataupun kompos) yang telah matang sebanyak 1,0 - 1,5 kg/tanaman.
    • Pada tanah yang pH-nya masam, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang dilakukan pengapuran sebanyak 100 - 125 gram/tanaman.
    • Pupuk kandang dan kapur pertanian dicampur dengan tanah bedengan secara merata sambil dibalikkan, kemudian dibiarkan diangin - anginkan selama kurang lebih 2 minggu.
    Catatan :
    Jika populasi cabai hibrida per hektar antara 18.000 - 20.000 tanaman pada jarak tanam 60 x 70 cm, maka diperlukan pupuk kandang 18 - 30 ton, dan kapur pertanian 1,8 - 2,0 ton.
    Penyiapan Benih dan Pembibitan

    Bersamaan dengan terbentuknya bedengan kasar, dilakukan penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian. Untuk lahan (kebun) seluas 1 hektar diperlukan benih + 180 gr atau 18 bungkus kemasan masing-masing berisi 10 gram. Benih dapat disemai langsung satu dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang ataupun polybag kecil ukuran 8 x 10 cm, tetapi dapat pula dikecambahkan terlebih dahulu. Sebelum dikecambahkan, benih cabai sebaiknya direndam dulu dalam air dingin ataupun air hangat 550 - 600 selama 15 - 30 menit untuk mempercepat proses perkecambah-an dan mencucihamakan benih tersebut. Bila benih cabai akan disemai langsung dalam polybag, maka sebelumnya polybag harus diisi dengan media campuran tanah halus, pupuk kandang matang halus, ditambah pupuk NPK dihaluskan serta Furadan atau Curater. Sebagai pedoman untuk campuran adalah : tanah halus 2 bagian (2 ember volume 10 liter) + 1 bagian pupuk kandang matang halus (1 ember volume 10 liter) + 80 gr pupuk NPK dihaluskan (digerus) + 75 gr Furadan. Bahan media semai tersebut dicampur merata, lalu dimasukkan ke dalam polybag hingga 90% penuh. Benih cabai hibrida yang telah direndam, disemaikan satu per satu sedalam 1,0 - 1,5 cm, lalu ditutup dengan tanah tipis. Berikutnya semua polybag yang telah diisi benih cabai disimpan di bedengan secara teratur dan segera ditutup dengan karung goni basah selama + 3 hari agar cepat berkecambah. Bila benih dikecambahkan terlebih dahulu, maka sehabis direndam harus segera dimasukkan ke dalam lipatan kain basah (lembab) selama + 3 hari. Setelah benih keluar bakal akar sepanjang 2-3 mm, dapat segera disemaikan ke dalam polybag. Cara ini untuk meyakinkan daya kecambah benih yang siap disemai dalam polybag. Tata cara penyemaian benih ke dalam polybag prinsipnya sama seperti cara di atas hanya perlu alat bantu pinset agar kecambah benih cabai tidak rusak. Penyimpanan polybag berisi semaian cabai dapat ditata dalam rak-rak kayu atau bambu, namun dapat pula diatur rapi di atas bedengan-bedengan selebar 110 - 120 cm. Setelah semaian cabai tersebut diatur rapi, maka harus segera dilindungi dengan sungkup dari bilah bambu beratapkan plastik bening (transparan) ataupun jaring net kassa. Selama bibit di pesemaian, kegiatan rutin pemeliharaan adalah penyiraman 1-2 kali/hari atau tergantung cuaca, dan penyemprotan pupuk daun pada dosis rendah 0,5 gr/liter air saat tanaman muda berumur 10 - 15 hari, serta penyemprotan pestisida pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit.
    Pemasangan MPHP

    Sebelum MPHP dipasang untuk menutupi permukaan bedengan, terlebih dahulu dilakukan pemupukan pupuk buatan secara total sekaligus. Jenis dan dosis pupuk yang biasa digunakan untuk cabai hibrida adalah sebagai berikut :
    Untuk praktisnya dapat menghitung pupuk per bedengan. Misalnya panjang bedengan 12 meter, jarak tanam 60 x 70 cm akan berisi 40 tanaman. Jadi, pupuk yang diperlukan sejumlah + 4 kg, yang terdiri atas perbandingan 3 ZA : 1 Urea : 2 TSP : 1,5 Kcl, dengan catatan tiap 100 kg pupuk campuran tadi ditambahkan 1 kg Borate dan 1,5 kg Furadan. Campuran pupuk buatan ini disebar merata sambil diaduk dan dibalikkan dengan tanah bedengan. Kemudian bedengan diratakan kembali sambil dirapihkan, dan setelah itu disiram air secukupnya agar pupuk dapat larut ke lapisan tanah. Pemasangan MPHP sebaiknya memperhatikan cuaca, yakni pada saat terik matahari antara pukul 14.00 - 16.00 agar plastik tersebut memanjang (memuai) dan menutup tanah serapat mungkin. Pemasangan MPHP minimal dilakukan oleh 2 orang. Caranya adalah : tariklah kedua ujung MPHP ke masing-masing ujung bedengan arah memanjang. Kemudian dikuatkan dengan pasak bilah bambu berbentuk "U" yang ditancapkan di setiap sisi bedengan. Berikutnya tarik pula lembar MPHP ke bagian sisi kiri kanan (lebar) bedengan hingga nampak rata menutup permukaan bedengan. Kuatkan dengan pasak bilah bambu pada setiap jarak 40 - 50 cm. Bedengan yang telah ditutup MPHP dibiarkan dulu selama + 5 hari agar pupuk buatan larut dalam tanah dan tidak membahayakan (toksis) bibit cabai yang ditanam.


    Penanaman

    Waktu tanam yang paling baik adalah pagi atau sore hari, dan bibit cabai telah berumur 17 - 23 hari atau berdaun 2 - 4 helai. Sehari sebelum tanam, bedengan yang telah ditutup MPHP harus dibuatkan lubang tanam dulu. Jarak tanam untuk cabai merah hibrida adalah 60 x 70 cm atau 70 x 70 cm, sedangkan cabai paprika 50 x 70 cm atau 60 x 70 cm. Pembuatan lubang tanam dapat menggunakan alat bantu khusus yang terbuat dari potongan pipa besi diisi arang. Penggunaan alat ini dengan cara menempelkan ujung bawahnya pada MPHP sesuai dengan jarak tanam yang telah ditetapkan. Dengan cara demikian MPHP akan berlubang berupa bulatan-bulatan kecil berdiameter + 6 - 8 cm. Selain itu, dapat juga menggunakan alat bantu bekas kaleng susu yang salah satu permukaannya telah dipotong. Cara penggunaan kaleng bekas susu ini adalah : tutupkan pada calon lubang tanam yang telah ditetapkan, kemudian putarlah sambil ditekan alakadarnya, maka akan langsung terbentuk lubang kecil. Cara lain adalah menggunakan pisau silet atau pisau cutter dengan cara dikeratkan langsung pada MPHP berbentuk bulatan kecil. Bibit cabai hibrida yang siap dipindahtanamkan segera disiram dengan air bersih secukupnya. Kemudian bersama dengan polybagnya direndam dalam larutan fungisida sistemik atau bakterisida pada dosis 0,5 - 1,0 gram/liter air selama 15 - 30 menit untuk mencegah penularan hama dan penyakit. Setelah media semainya cukup kering, bibit cabai hibrida dikeluarkan dari polybag secara hati-hati. Caranya : ambil polybag berisi bibit sambil dibalikkan dan pangkal batang bibit cabai dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah. Bagian dasar polybag ditepuk-tepuk secara pelan dan hati-hati, maka bibit cabai akan keluar bersama akar dan medianya. Bibit cabai hibrida siap langsung ditanam pada lubang tanam yang tersedia.
    Cara penanaman bibit cabai adalah : mula-mula sebagian tanah pada lubang tanam diangkat kira-kira seukuran media polybag; kemudian bibit dimasukkan sambil diurug tanah hingga dekat pangkal batangnya cukup padat. Bibit cabai hibrida yang disemai dalam polybag ini, begitu dipindahtanamkan langsung tumbuh (segar) tanpa mengalami kelayuan (stagnasi). Selesai tanam, segera disiram sampai tanahnya cukup basah.

    PEMELIHARAAN TANAMAN
    Kegiatan pokok pemeliharaan tanaman meliputi : pemasangan ajir (turus), penyiraman (pengairan), perempelan tunas dan bunga pertama, pemupukan tambahan (susulan), perempelan daun bawah di bawah cabang, pengendalian hama dan penyakit. Khusus untuk cabai paprika yang sifatnya peka terhadap sinar matahari yang terik diperlukan naungan beratap plastik bening (transparan). Pemasangan kerangka naungan ini bisa tunggal per bedengan, atau 2 bedengan bahkan tiap 4 bedengan; tergantung dari kepraktisan maupun ketersediaan bahan.

    Tata cara pemasangan sungkup (naungan) untuk cabai paprika (atau cabai hibrida di musim hujan), pada prinsipnya adalah sebagai berikut :
    • Pasang tiang-tiang dari bambu gelondongan setinggi 50 - 80 cm di bagian pinggir bedengan; arahnya memanjang pada jarak tiap 3-4 meter.


  • Pasang bilah bambu yang bentuknya dilengkungkan setengah lingkaran setinggi 160 - 200 cm dari permukaan tanah. Caranya adalah dengan memasukkan ujung bilah bambu ke dalam lubang bambu gelondongan yang letaknya berpasangan.
  • Hubungkan antara kerangka sungkup yang satu dengan yang lainnya dengan bilah bambu yang dipasang memanjang, kemudian ikat dengan tali kawat, hingga akhirnya sungkup (kerangka) naungan siap dipasang atap plastik bening.
  • Pasang atap plastik bening, dan kuatkan dengan tali pengikat agar tidak mudah lepas oleh terpaan angin.

  • Kegiatan pemeliharaan tanaman untuk semua jenis atau varietas cabai hibrida umumnya meliputi :
    Pemasangan ajir (turus)

    Cabai hibirida umumnya berbuah lebat, sehingga untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh serta tidak rebah perlu dipasang ajir (turus) dari bilah bambu setinggi 125 cm, lebar + 4 cm dan tebalnya + 2 cm. Ajir dipasang (ditancapkan) tegak tiap 3 tanaman cabai 1 ajir secara berjajar mengikuti arah panjang bedengan. Antara ajir dengan ajir lainnya dihubungkan dengan bilah bambu memanjang (gelagar) tepat pada ketinggian 80 cm dari permukaan tanah. Pemasangan ajir harus sedini mungkin, yakni pada saat tanaman belum berumur 1 bulan setelah pindah tanam. Hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan akar tanaman cabai sewaktu memasang (menancapkan) ajir. Khusus untuk cabai paprika, pemasangan ajir setiap tanaman 1 ajir.
    Pengairan (Penyiraman)

    Pada fase awal pertumbuhan atau saat tanaman cabai masih menyesuaikan diri terhadap lingkungan kebun (adaptasi), maka penyiraman perlu dilakukan secara rutin tiap hari, terutama di musim kemarau. Setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, pengairan berikutnya dilakukan dengan cara dileb setiap 3 - 4 hari sekali. Pengeleban ini airnya cukup sampai batas antara tanah bagian bawah dengan ujung MPHP. Setelah tanah bedengan basah, airnya segera dibuang kembali melalui saluran pembuangan. Tanah yang becek atau menggenang akan memudahkan tanaman terserang penyakit layu. Di lahan tertentu yang tidak mungkin melakukan pengairan dengan cara dileb, dapat menggunakan teknik kocoran melalui selang yang dialirkan di antara 4 tanaman. Ujung selang dimasukkan ke dalam lubang MPHP di tengah-tengah bedengan. Tanaman cabai hibrida di bawah 40 hari, memerlukan pengairan yang intensif dan rutin. Sedangkan tanaman yang sudah produktif (berbuah) tidak mutlak memerlukan air banyak. Tetapi yang terpenting adalah menjaga agar tanah tidak kekeringan.

    Perempelan

    Cabai hibrida umumnya bertunas banyak yang tumbuh dari ketiak-ketiak daun. Tunas ini tidak produktif dan akan mengganggu pertumbuhan secara optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan perempelan (pembuangan) tunas samping.
    Perempelan tunas samping dilakukan pada tanaman cabai hibrida yang berumur antara 7 - 20 hari. Semua tunas samping dibuang agar tanaman tumbuh kuat dan kokoh. Saat terbentuk cabang, maka perempelan tunas dihentikan. Biasanya perempelan tunas ini dilakukan 2 - 3 kali. Tanpa perempelan tunas samping, pertumbuhan tanaman cabai akan lambat.
    Ketika tanaman cabai mengeluarkan bunga pertama dari sela-sela percabangan pertama, maka bunga ini pun harus dirempel. Tujuan perempelan bunga perdana ini adalah untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas dan percabangan di atasnya yang lebih banyak dan produktif menghasilkan buah yang lebat. Kelak tanaman cabai hibrida yang sudah berumur 75 - 80 hari biasanya sudah membentuk percabangan yang optimal. Daun-daun tua yang ada di bawah cabang dapat dirempel, terutama daun yang terserang hama dan penyakit. Daun tua tersebut sudah tidak produktif lagi, bahkan seringkali menjadi sumber penularan hama dan penyakit. Perempelan daun-daun tua ini jangan terlalu awal, sebab pertumbuhan cabang daun belum optimal. Kesalahan perempelan daun tua, justru berakibat fatal, yakni menyebabkan tanaman cabai tumbuh merana dan produksinya menurun.
    Pemupukan Tambahan (susulan)

    Sekalipun tanaman cabai hibrida sudah dipupuk total pada saat akan memasang MPHP, namun untuk menyuburkan pertumbuhan yang prima dapat diberi pupuk tambahan (susulan). Jenis pupuk yang digunakan pada fase pertumbuhan vegetatif aktif (daun dan tunas) adalah pupuk daun yang kandungan Nitrogennya tinggi, misalnya Multimicro dan Complesal cair. Interval penyemprotan pupuk daun antara 10 - 14 hari sekali, dengan dosis atau konsentrasi yang tertera pada labelnya (kemasan) pupuk daun tersebut. Pada fase pertumbuhan bunga dan buah (generatif), masih perlu pemberian pupuk daun yang mengandung unsur Phospor dan Kaliumnya tinggi, misalnya Complesal merah, Kemira merah ataupun Growmore Kalsium. Untuk memacu pertumbuhan bunga dan buah, tanaman cabai yang berumur 50 hari dapat dipupuk susulan berupa NPK atau campuran ZA, Urea, TSP, Kcl, (1 : 1 : 1 : 1) sebanyak + 4 sendok makan. Cara pemberiannya adalah dengan melubangi MPHP diantara 4 tanaman. Kemudian pupuk dimasukkan melalui lubang tersebut sambil diaduk-aduk dengan tanah dan langsung disiram air bersih agar cepat larut dan meresap ke dalam tanah. Pemupukan susulan berikutnya masih diperlukan, terutama bila kondisi pertumbuhan tanaman cabai kurang memuaskan atau karena terserang hama dan penyakit. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan adalah NPK sebanyak 4-5 kg yang dilarutkan dalam 200 liter air (1 drum). Pemberiannya adalah dengan cara dikocorkan pada setiap tanaman sebanyak 300 - 500 cc atau tergantung kebutuhan. Cara pengocoran dapat dilakukandengan alat bantu corong atau selang sepanjang 0,5 - 1,0 m dimasukkan ke dalam lubang MPHP dekat pangkal batang tanaman cabai. Pengocoran pupuk larutan ini dapat dilakukan setiap dua minggu sekali. Varietas cabai hibrida umumnya bisa berbuah cukup lama, sehingga dapat dipanen beberapa kali (12 - 14 kali), terutama pada hibrida Hot Beauty dan Hero. Setiap kali selesai panen perlu dipupuk susulan untuk mempertahankan produktivitas buah. Jenis dan dosis pupuknya adalah berupa NPK atau campuran ZA, Urea, TSP, KCl, (1 : 1 : 1 : 1) sebanyak 2 sendok per tanaman yang diberikan di antara 2 tanaman cabai bagian kiri dan kanan. Pada kondisi pertumbuhan tanaman cabai cukup bagus, pemberian pupuk susulan ini cukup sebulan sekali. Pemupukan Nitrogen pada cabai hibrida dianjurkan 2 macam sumber N, yaitu ZA san Urea. Pupuk ZA selain mengandung unsur Nitrogen, juga kaya akan unsur Belerang (S) yang diperlukan untuk pertumbuhan cabai hibrida secara optimal.


    KEUNTUNGAN PENGGUNAAN PLASTIK HITAM-PERAK
    Mulsa plastik yang dianggap baik di daerah subtropis adalah yang berwarna hitam dengan ketebalan 50 mikron. Mulsa Plastik Hitam (MPH) sudah membudaya pada tanaman mentimun, tomat, strawberri dan kubis bunga. Adaptasi atau pengembangan teknologi sistem Mulsa Plastik dirintis oleh Jepang dan Taiwan yang memperkenalkan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP). MPHP ini memiliki dua muka dan dua warna, yaitu muka pertama berwarna hitam dan muka kedua berwarna perak. Warna hitam untuk menutup permukaan tanah, warna perak sebagai permukaan atas tempat menanam suatu tanaman budidaya.
    Keuntungan bertani sistem MPHP antara lain :
    1. Pemberian pupuk dapat dilakukan sekaligus total sebelum tanam.


  • Warna hitam dari mulsa menimbul-kan kesan gelap sehingga dapat menekan rumput-rumput liar atau gulma.
  • Warna perak dari mulsa dapat memantulkan sinar matahari ; sehingga dapat mengurangi hama aphis, trips dan tungau, serta secara tidak langsung menekan serangan penyakit virus.
  • Menjaga tanah tetap gembur, suhu dan kelembaban tanah relatif tetap (stabil).
  • Mencegah tercucinya pupuk oleh air hujan, dan penguapan unsur hara oleh sinar matahari.
  • Buah cabai yang berada di atas permukaan tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga dapat mengurangi resiko berjangkitnya penyakit busuk buah.
  • Kesuburan tanah karena pemupukan dapat merata, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya relatif seragam (homogen).
  • Praktis untuk melakukan sterilisasi tanah dengan menggunakan gas fumigan seperti Basamid-G, karena fungsi MPHP mempercepat proses pembentukan gas zat fumigan tanpa harus membeli plastik khusus.
  • Secara ekonomis penggunaan MPHP dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah, sehingga biaya pengadaan MPHP dapat dialokasikan dari biaya pemeliharaan tanaman tersebut.
  • Pada musim kering (kemarau), MPHP dapat menekan penguapan air dari dalam tanah, sehingga tidak terlalu sering untuk melakukan penyiraman (pengairan).

  • PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
    Salah satu faktor penghambat peningkat-an produksi cabai adalah adanya serangan hama dan penyakit yang fatal. Kehilangan hasil produksi cabai karena serangan penyakit busuk buah (Colletotrichum spp), bercak daun (Cercospora sp) dan cendawan tepung (Oidium sp.) berkisar antara 5% - 30%. Strategi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai diajurkan penerapan pengendalian secara terpadu. Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengen-dalian kultur teknik, hayati (biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi.
    HAMA CABAI
    Ulat Grayak (Spodoptera litura)
    Serangga dewasa dari hama ini adalah kupu-kupu, berwarna agak gelap dengan garis agak putih pada sayap depan. Meletakkan telur secara berkelompok di atas daun atau tanaman dan ditutp dengan bulu-bulu. Jumlah telur tiap betina antara 25-500 butir. Telur akan menetas menjadi ulat (larva), mula-mula hidup ber-kelompok dan kemudian menyebar. Ciri khas dari larva (ulat) grayak ini adalah terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris-garis kekuningan pada sisinya. Larva akan menjadi pupa (kepompong) yang dibentuk di bawah permukaan tanah. Daur hidup dari telur menjadi kupu-kupu berkisar antara 30 - 61 hari. Stadium yang membahayakan dari hama Spodoptera litura adalah larva (ulat). Menyerang bersama-sama dalam jumlah yang sangat besar. Ulat ini memangsa segala jenis tanaman (polifag), termasuk menyerang tanaman cabai. Serangan ulat grayak terjadi di malam hari, karena kupu-kupu maupun larvanya aktif di malam hari. Pada siang hari bersembunyi di tempat yang teduh atau di permukaan daun bagian bawah. Hama ulat grayak merusak di musim kemarau dengan cara memakan daun mulai dari bagian tepi hingga bagian atas maupun bawah daun cabai. Serangan hama ini menyebabkan daun-daun berlubang secara tidak beraturan; sehingga menghambat proses fotosintesis dan akibatnya produksi buah cabai menurun. Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara :
    1. Mekanis, yaitu mengumpulkan telur dan ulat-ulatnya dan langsung dibunuh.


  • Kultur teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama, serta melakukan rotasi tanaman.
  • Hayati (biologis) kimiawi, yaitu disemprot dengan insektisida berbahan aktif Bacilus thuringiensis seperti Dipel, Florbac, Bactospeine, dan Thuricide.
  • Sex pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu) jantan. Sex pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan sexual (birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan melakukan perkawinan sehingga membuahkan keturunan. Sex pheromone dari Taiwan yang di Indonesia diberi nama "Ugratas" atau Ulat Grayak Berantas Tuntas berwarna "merah" sangat efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak (S. litura). Cara pemasangan Ugratas merah ini adalah dimasukkan ke dalan botol bekas aqua volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-kupu jantan. Untuk 1 hektar kebun cabai cukup dipasang 5-10 buah Ugratas merah, dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas tanaman cabai. Daya tahan (efektivitas) Ugratas ini + 3 minggu, dan tiap malam bekerja efektif sebagai perangkap ngengat jantan. Keuntungan penggunaan Ugratas ini antara lain : aman bagi manusia dan ternak, tidak berdampak negatif terhadap lingkungan, dapat menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama, dan dapat memperlambat perkem-bangan hama tersebut.
  • Kimiawi, yaitu disemprot insektisida seperti Hostathion 40 EC 2 cc/lt atau Orthene 75 SP 1 gr/lt.

  • Kutu Daun (Myzus persicae Sulz.)
    Kutu daun atau sering disebut Aphid tersebar di seluruh dunia. Hama ini memakan segala jenis tanaman (polifag), lebih dari 100 jenis tanaman inang, termasuk tanaman cabai. Kutu daun berkembang biak dengan 2 cara, yaitu dengan perkawinan biasa dan tanpa perkawinan atau telur-telurnya dapat berkembang menjadi anak tanpa pembuahan (partenogenesis). Daur hidup hama ini berkisar antara 7 - 10 hari. Hama ini menyerang tanaman cabai dengan cara mengisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga ataupun bagian tanaman lainnya. Serangan berat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting, belang-belang kekuningan (klorosis) dan akhirnya rontok sehingga produksi cabai menurun.
    Kehadiran kutu daun di kebun cabai, tidak hanya menjadi hama tetapi juga berfungsi sebagai penular (penyebar) berbagai penyakit virus. Di samping itu, kutu daun mengeluarkan cairan manis (madu) yang dapat menutupi permukaan daun. Cairan manis ini akan ditumbuhi cendawan jelaga berwarna hitam sehingga menghambat proses fotosintesis. Serangan kutu daun menghebat pada musim kemarau.
    Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara :
    1. Kultur teknik, yaitu menanam tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling kebun cabai, misalnya jagung.
    2. Kimiawi, yaitu dengan semprotan insektisida yang efektif dan selektif seperti Deltamethrin 25 EC pada konsentrasi 0,1 - 0,2 cc/liter, Decis 2,5 EC 0,04%, Hostathion 40EC 0,1% atau Orthene 75 SP 0,1%.
    Lalat Buah (Dacus ferrugineus)
    Serangga dewasa panjangnya + 0.5 cm, berwarna coklat-tua, dan meletakkan telurnya di dalam buah cabai. Telur tersebut akan menetas, kemudian merusak buah cabai. Buah-buah yang diserang akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian membusuk dan berlubang kecil. Buah cabai yang terserang akan dihuni larva yang pandai meloncat-loncat. Akibatnya semua bagian buah cabai rusak, busuk, dan berguguran (rontok). Daur hidup hama ini lamanya sekitar 4 minggu, dan pembentukan stadium pupa terjadi di atas permukaan tanah.
    Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara :
    1. Kultur teknik, yaitu dengan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang lalat buah.
    2. Mekanis, yaitu dengan mengumpul-kan buah cabai yang terserang, kemudian dimusnahkan.
    3. Kimiawi, yaitu dengan pemasangan perangkap beracun "metil eugenol" atau protein hydrolisat yang efektif terhadap serangga jantan maupun betina. Dapat pula disemprot langsung dengan insektisida seperti Buldok, Lannate ataupun Tamaron.
    Thrips (Thrips sp.)
    Spesies Thrips yang sering ditemukan adalah T. tabaci yang hidupnya bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangga Thrips sangat kecil, panjang + 1 mm, berkembang biak tanpa pembuahan sel telur (partenogenesis) dan siklus hidupnya berlangsung selama 7 - 12 hari. Hama Thrips menyerang hebat pada musim kemarau dengan memperlihatkan gejala serangan strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Serangan yang berat dapat mengakibatkan matinya daun (kering). Thrips ini kadang-kadang berperan sebagai penular (vektor) penyakit virus.
    Pengendalian secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara :
    1. Kultur teknis, yaitu dengan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai secara bertahap dengan selisih waktu cukup lama karena tanaman muda akan terserang parah.
    2. Kimiawi, yaitu dengan disemprot insektisida Deltamethrin 25 EC 0,1-0,7 cc/lt, Triazophos 40 EC 0,5-2,0 cc/lt, Endosulfan 25 EC 0,5-2,0 cc/lt, atau juga Decis 2,5 EC (0,04%), Hostathion 20 EC (0,2%) maupun Mesurol 50 WP (0,1-0,2%).
    Tungau (Tarsonemus translucens)
    Tungau berukuran sangat kecil, tetapi bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangga dewasa panjangnya + 1 mm, bentuk mirip laba-laba, dan aktif di siang hari. Siklus hidup tungau berkisar selama 14-15 hari. Tungau menyerang tanaman cabai dengan cara mengisap cairan sel daun atau pucuk tanaman. Akibat serangannya dapat menimbulkan bintik-bintik kuning atau keputihan. Serangan yang berat, terutama di musim kemarau, akan menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan daun-daunnya keriting. Pengendalian tungau dapat dilakukan dengan cara disemprot insektisida akarisasi seperti Omite EC (0,2%) atau Mitac 200 EC (0,2%).





    PENYAKIT CABAI
    Layu Bakteri (Pseudomonas solana-cearum E.F. Smith)
    Bakteri layu mempunyai banyak tanaman inang, diantaranya adalah tomat, kentang, kacang tanah dan cabai. Penyebaran penyakit layu bakteri dapat melalui benih, bibit, bahan tanaman yang sakit, residu tanaman, irigasi (air), serangga, nematoda dan alat-alat pertanian. Bakteri layu biasanya menghebat pada tanaman cabai di dataran rendah. Gejala kelayuan tanaman cabai terjadi mendadak, dan akhirnya menyebabkan kematian tanaman dalam beberapa hari kemudian. Bakteri layu menyerang sistem perakaran tanaman cabai. Bila pangkal batang cabai yang diserang, dipotong atau dibelah, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening, maka setelah beberapa menit digoyang-goyangkan akan keluar cairan berwarna coklat susu atau berkas pembuluh batangnya berwarna coklat berlendir (slime bakteri). Gejala yang dapat diamati secara visual pada tanaman cabai adalah kelayuan tanaman mulai dari bagian pucuk, kemudian menjalar ke seluruh bagian tanaman. Daun menguning dan akhirnya mengering serta rontok. Penyakit bakteri layu dapat menyerang tanaman cabai pada semua tingkatan umur, tetapi paling peka adalah tanaman muda atau menjelang fase berbunga maupun berbuah.
    Pengendalian penyakit bakteri layu harus dilakukan secara terpadu, yaitu :
    1. Perlakuan benih atau bibit sebelum tanam dengan cara direndam dalam bakterisida Agrimycin atau Agrept 0,5 gr/lt selama 5-15 menit.
    2. Perbaikan drainase tanah di sekitar kebun agar tidak becek atau menggenang.
    3. Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menular ke tanaman yang sehat.
    4. Penggunaan bakterisida Agrimycin atau Agrept dengan cara disemprotkan atau dikocor di sekitar batang tanaman cabai tersebut yang diperkirakan terserang bakteri P. solanacearum.
    5. Pengelolaan (manajemen) lahan, misalnya dengan pengapuran tanah ataupun pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae
    Layu Fusarium (Fusarium oxysporum Sulz.)
    Layu Fusarium disebabkan oleh organisme cendawan bersifat tular tanah. Biasanya penyakit ini muncul pada tanah-tanah yang ber pH rendah (masam). Gejala serangan yang dapat diamati adalah terjadinya pemucatan warna tulang-tulang daun di sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai-tangkai daun; sehingga akibat lebih lanjut seluruh tanaman layu dan mati. Gejala kelayuan tanaman seringkali sulit dibedakan dengan serangan bakteri layu (P. solanacearum). Untuk membuktikan penyebab layu tersebut dapat dilakukan dengan cara memotong pangkal batang tanaman yang sakit, kemudian direndam dalam gelas berisi air bening (jernih). Biarkan rendaman batang tadi sekitar 5-15 menit, kemudian digoyang-goyangkan secara hati-hati. Bila dari pangkal batang keluar cairan putih dan terlihat suatu cincin berwarna coklat dari berkas pembuluhnya, hal itu menandakan adanya serangan Fusarium.
    Pengendalian penyakit layu Fusarium dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
    1. Perlakuan benih atau bibit dengan cara direndam dalam larutan fungisida sistemik, misalnya Benlate ataupun Derosal 0,5-1,0 gr/lt air selama 10-15 menit.
    2. Pengapuran tanah sebelum tanam dengan Dolomit atau Captan (Calcit) sesuai dengan angka pH tanah agar mendekati netral.
    3. Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman yang sehat.
    4. Pengaturan pembuangan air (drainase), dengan cara pembuatan bedengan yang tinggi, terutama pada musim hujan.
    5. Penyiraman larutan fungisida sistemik seperti Derosal, Anvil, Previcur N dan Topsin di sekitar batang tanaman cabai yang diduga sumber atau terkena cendawan.
    Bercak Daun dan Buah (Collectro-tichum capsici (Syd). Butl. et. Bisby).
    Bercak daun dan buah cabai sering disebut penyakit Antraknose atau "patek". Penyakit ini menjadi masalah utama di musim hujan. Disebabkan oleh cendawan Gloesporium piperatum Ell. et. Ev dan Colletotrichum capsici. Cendawan G. piperatum umumnya menyerang buah muda dan menyebabkan mati ujung. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan terbentuknya bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk, serta tepi bintik berwarna kuning. Di bagian lekukan akan terus membesar dan memanjang yang bagian tengahnya berwarna gelap. Cendawan C. capsici lebih sering menyebabkan buah cabai membusuk. Gejala awal serangan ditandai dengan terbentuknya bercak coklat-kehitaman pada buah, kemudian meluas menjadi busuk-lunak. Pada bagian tengah bercak terdapat titik-titik hitam yang merupakan kumpulan dari konidium cendawan. Serangan yang berat menyebabkan buah cabai mengkerut dan mengering menyerupai "mummi" dengan warna buah seperti jerami.
    Pengandalian dapat dilakukan dengan cara :
    1. Perlakuan benih, yaitu direndam dalam larutan fungisida berbahan aktif Benomyl atau Thiram, misalnya Benlate pada dosis 0,5/lt, ataupun berbahan aktif Captan (Orthocide) dengan dosis 1 gr/lt. Lamanya perendaman benih antara 4-8 jam.
    2. Pengaturan jarak tanam yang sesuai sehingga kondisi kebum tidak terlalu lembab. Pada musim kemarau dapat menggunakan jarak tanam 50 x 70 cm, sedangkan di musim hujan 60 x 70 cm ataupun 65 x 70 cm, baik sistem segi empat atau segi tiga zig-zag.
    3. Pembersihan (sanitasi) lingkungan yaitu dengan cara menyiang gulma atau sisa-sisa tanaman yang ada di sekitar kebun agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit.
    4. Buah cabai yang sudah terserang penyakit dikumpulkan, kemudian dimusnahkan (dibakar).
    5. Penyemprotan dengan fungisida seperti Kasumin 2 cc/lt, Difolatan 4 cc/lt, Phycozan, Dithane M-45, Daconil, Topsin, Antracol dan Delsen. Fungisida-fungisida tersebut efektif menekan Antraknosa.
    6. Rotasi tanaman, yakni pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae (tomat, kentang, terung, tambakau). Tujuan rotasi tanaman ini adalah untuk memotong siklus hidup cendawan penyebab penyakit Antraknosa.
    Bercak Daun (Cercospora capsici Heald et Wolf)
    Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Cercospora capsici. Gejala serangan penyakit ditandai dengan bercak-bercak bulat kecil kebasah-basahan. Berikutnya bercak akan meluas dengan garis tengah + 0,5 cm. Di pusat bercak nampak berwarna pucat sampai putih dengan tepinya berwarna lebih tua. Serangan yang berat (parah) dapat menyebabkan daun menguning dan gugur, ataupun langsung berguguran tanpa didahului menguningnya daun. Pengen-dalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Topsin, Velimek, dan Benlate secara berselang-seling.
    Bercak Alternaria (Alternaria solani Ell & Marf)
    Penyebab penyakit bercak Alternaria adalah cendawan. Gejala serangan penyakit ini adalah ditandai dengan timbulnya bercak-bercak coklat-tua sampai kehitaman dengan lingkaran-lingkaran konsentris. Bercak-bercak ini akan membesar dan bergabung menjadi satu. Serangan penyakit bercak Alternaria dimulai dari daun yang paling bawah, dan kadang-kadang juga menyerang pada bagian batang. Pengendalian penyakit bercak Alternaria antara lain dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Cupravit, Dithane M-45 dan Score, secara berselang-seling.
    Busuk Daun dan Buah (Phytophthora spp)
    Penyakit busuk daun dapat pula menyebabkan busuk buah cabai. Gejala serangan nampak pada daun yaitu bercak-bercak kecil di bagian tepinya, kemudian menyerang seluruh batang. Batang tanaman cabai juga dapat diserang oleh penyakit ini, ditandai dengan gejala perubahan warna menjadi kehitaman. Buah-buah cabai yang terserang menunjukkan gejala awal bercak-bercak kebasahan, kemudian meluas ke arah sumbu panjang, dan akhirnya buah akan terlepas dari kelopaknya karena membusuk. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pengaturan jarak tanam yang baik, yaitu di musim hujan idealnya 70 x 70 cm, mengumpulkan buah cabai yang busuk untuk dimusnahkan, dan disemprot fungisida seperti Sandovan MZ, Kocide atau Polyram secara berselang-seling.


    Virus

    Penyakit virus pada tanaman cabai di pulau Jawa dan Lampung ditemukan adanya Cucumber Mosaic Virus (CMV), Potato Virus Y (PVY), Tobacco Etch Virus (TEV), Tobacco Mosaic Virus (TMV), Tobacco Rattle Virus (TRV), dan juga Tomato Ringspot Virus (TRSV).
    Gejala penyakit virus yang umum ditemukan adalah daun mengecil, keriting, dan mosaik yang diduga oleh TMV, CMV dan TEV. Penyebaran virus biasanya dibantu oleh serangga penular (vektor) seperti kutu daun dan Thrips. Tanaman cabai yang terserang virus seringkali mampu bertahan hidup, tetapi tidak menghasilkan buah.
    Pengendalian penyakit virus ini dapat dilakukan dengan cara :
    1. Pemberantasan serangga vektor (penular) seperti Aphids dan Thrips dengan semprotan insektisida yang efektif.
    2. Tanaman cabai yang menunjukkan gejala sakit dan mencurigakan terserang virus dicabut dan dimusnahkan.
    3. Melakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman yang bukan famili Solanaceae.
    Penyakit Fisiologis

    Merupakan keadaan suatu tanaman menderita sakit atau kelainan, tetapi penyebabnya bukan oleh mikroorganisme. Beberapa contoh penyakit fisiologis pada tanaman cabai yang paling sering ditemukan adalah kekurangan unsur hara Kalsium (Ca), dan terbakarnya buah cabai akibat sengatan sinar matahari, terutama pada cabai Paprika. Tanaman cabai yang kekurangan unsur Ca akan menunjukkan gejala pada buahnya terdapat bercak hijau-gelap, kemudian menjadi lekukan bacah coklat kehitam-hitaman. Jaringan di tempat bercak menjadi rusak sampai ke bagian dalam buah. Bentuk buah cabai menjadi pipih dan berubah warna lebih awal (sebelum waktunya). Biasanya kekurangan Ca pada stadium buah rusak akan diikuti tumbuhnya cendawan. Usaha pencegahan kekurangan Ca dapat dilakukan dengan cara pengapuran sewaktu mengolah tanah, diikuti pemupukan berimbang, dan pengairan kebun secara merata. Bila tanaman cabai atau paprika sedang produktif berbuah tetapi baru diketahui kekurangan Ca, maka dapat disemprot dengan pupuk daun yang banyak mengandung unsur Ca, seperti Growmore Kalsium. Cabai paprika tidak tahan terhadap sinar matahari, sehingga bila mengenai permukaan buah akan menyebabkan terbakarnya kulit dan bagian dalam buah. Gejala yang nampak di bagian luar adalah warna kulit buah berubah menjadi keputih-putihan hingga kecoklatan dan mengkerut. Meskipun tidak menjadi busuk basah, tetapi warna buah menjadi jelek dan kualitasnya menurun (rendah). Pengendalian terhadap sengatan sinar matahari adalah melindungi tanaman dengan sungkup beratapkan plastik transparan (bening). Menurut penelitian, fungsi naungan plastik bening selain dapat mengurangi (mereduksi) intensitas cahaya matahari, juga dapat mengurangi tingginya temperatur tanah dan defisit air; sehingga dapat meningkatkan kelembaban relatif tanah di sekitar pertanaman paprika. Di samping itu, pengaruh naungan plastik bening dapat meningkatkan hasil (bobot) buah total.

    PANEN & PASCA PANEN
    PANEN CABAI HIBRIDA

    Panen cabai hibrida sangat dipengaruhi oleh faktor jenis atau varietasnya, dan lingkungan tempat tanam. Di dataran rendah, umumnya cabai mulai dipanen pada umur 75-80 hari setelah tanam. Panen berikutnya dilakukan selang 2-3 hari sekali. Sedangkan di dataran tinggi (pegunungan), panen perdana dapat dimulai pada umur 90-100 hari setelah tanam. Selanjutnya pemetikan buah dilakukan selang 6-10 hari sekali. Khusus untuk sasaran ekspor, panen cabai dipilih pada tingkat kemasakan 85% - 90% saat warna buah merah-kehitaman. Di dataran rendah, panen cabai untuk tujuan ekspor dapat diatur 2 hari sekali ; sedangkan di dataran tinggi antara 4-6 hari sekali. Pada cabai paprika, persyaratan layak panen adalah bila buahnya telah mencapai ukuran maksimal, hampir matang tetapi warnanya masih hijau. Buah cabai paprika yang dipanen terlalu muda bobotnya akan menurun secara drastis dan kurang tahan angkut (cepat rusak). Sebaliknya, buah cabai paprika yang dipanen terlalu matang atau warnanya sudah merah, maka kualitasnya kurang disukai pasar (konsumen). Kecuali beberapa varietas cabai paprika memang khusus untuk dipanen buah merah ataupun buah kuning.
    Cara panen cabai hibrida adalah memetik buah bersama tangkainya secara hati-hati di saat cuaca terang. Hasil panen dimasukkan ke dalam wadah, kemudian dikumpulkan di tempat penampungan. Pada pertanaman yang baik, dapat menghasilkan produksi antara 20-40 ton/ha. Khusus cabai paprika minimal dapat menghasilkan 5-10 ton/hektar, harga jualnya lebih mahal dibanding dengan jenis-jenis cabai lainnya.
    PASCA PANEN CABAI HIBRIDA
    Cabai Segar
    • Pemilihan buah (seleksi dan sortasi)
    • Di tempat penampungan, buah-buah cabai dipilih berdasarkan warna merah, masih kehitaman; dan juga dipisahkan antara buah sehat dengan buah sakit atau rusak (busuk).
    • Pengkelasan (klasifikasi)
    • Khusus untuk diekspor dilakukan pengkelasan, yaitu dipilih buah-buah cabai yang panjangnya minimal 11 cm, bentuk buah lurus, dan tidak terlalu matang.
    • Pewadahan (pengemasan)
    • Untuk sasaran pasar lokal, pewadahan cabai dapat dilakukan dalam karung plastik yang tembus udara ataupun keranjang bambu.
    • Untuk sasaran pasar ekspor, buah-buah cabai ditata rapi dalam kardus-kardus ukuran 30 x 40 x 50 cm berisi + 20 kg, dan berventilasi atau dibuatkan lubang-lubang kecil.
    • Penyimpanan
    • Penyimpanan sementara sebelum dipasarkan, sebaiknya di tempat (ruang) yang teduh dan cukup lembab, serta sirkulasi udara baik.
    • Bila fasilitas penyimpanan memungkinkan, dapat dilakukan dalam ruang dingin (cold storage) yang suhunya rendah antara 2-15 derajat Celcius dan kelembabannya tinggi sekitar 90%-95% agar tetap segar selama + 20 hari.


    Cabai Kering
    Pemasaran cabai kering memiliki beberapa keuntungan, diantaranya memudahkan pengangkutan, produk-nya dapat dikemas secara ringkas dan tahan lama.

    • Pembersihan
    • Buah-buah cabai dipilih yang sudah matang (berwarna merah), kemudian dicuci bersih dan tangkainya dibuang.
    • Pembelahan
    • Setelah buah cabai ditiriskan, segera dibelah dan dibuang biji-bijinya.
    • Perendaman sesaat dalam air hangat (blanching)
    • Buah-buah cabai segar segera dicelupkan ke dalam air mendidih yang telah dicampur Kalium Metabisulfit 0,2%. Lama perendaman + 6 menit, kemudian disusul pencelupan ke dalam air dingin. Tujuan blanching adalah untuk menambah ketahanan warna buah sehingga tidak cepat berubah terjadi coklat (browning).
    • Pengeringan
    • Pengeringan cabai dapat dilakukan secara alami (sinar matahari) selama 7-10 hari, ataupun dengan alat mekanis yang bersuhu 600 C sehingga dapat kering selama 12-20 jam. Pengeringan dengan alat mekanis memiliki beberapa keuntungan, antara lain waktunya relatif singkat, bersih, dan kadar air dapat seminim mungkin + 10%.
    • Penyimpanan


    Cabai kering dapat dikemas dalam kantong ataupun karung plastik tertutup rapat. Tempat penyimpanannya yang baik adalah ruangan kering dengan kelembaban 70%.

    7/15/13

    CARA BUDIDAYA TANAMAN KENTANG YANG BENAR

    1. Granola
    Jenis ini merupakan varietas unggul, karena produktivitasnya
    bisa mencapai 30 – 35 ton per hektar. Granola juga tahan terhadap
    penyakit kentang pada umumnya. Bila varietas lain kerusakan akibat
    penyakit bisa 30%, granola hanya 10%. Umur panen normal adalah 90
    hari, meskipun 80 hari sudah bisa dipanen. Warna kulit dan daging
    umbi kuning dan bentuknya relatif lonjong alias oval
    2. Cipanas
    Merupakan varietas hasil persilangan Thung 1510 dengan
    Desiree. Kulit umbi dan daging umbi berwarna kuning. Mampu
    berproduksi sampai 34 ton per hektar. Namun, varietas ini agak peka
    terhadap Nematoda Meloidogyne Sp dan serangan layu bakteri
    pseudomonas Solanacearum. Namun tahan terhadap penyakit busuk
    oleh cendawan phytophthora infestans (late blight, hawar daun). Umur
    panen 95 – 105 hari jadi lebih lama dibandingkan granola.
    3. Cosima
    Varietas ini introduksi dari Jerman, agak tahan terhadap
    penyakit Phytophthora infestans dan layu bakteri Pseudomonas
    Solanacearum, sedikit peka terhadap virus daun menggulung. Serta
    cukup tahan terhadap Nematoda Meloidogyne Sp. Di Pengalengan dan
    Lembang (Jawa Barat) Cosima lebih tahan hujan dibandingkan dengan
    Catella. Umur panennya 101 hari. Daya hasilnya antara 15 – 25 ton.
    Umbinya agak berpipih, kurang seragam, mata agak dalam, umbinya
    enak dan pulen, tetapi kurang baik untuk digoreng.
    4. Segunung
    Merupakan varietas hasil persilangan kentang Thung 151 C dan
    desiree. Umbi berbentuk bulat lonjong. Kulit dan daging umbi kuning.
    Potensi hasilnya bisa mencapai 25 ton / hektar. Sangat baik ditanam di
    daerah berdataran tinggi. Tanaman cukup tahan terhadap penyakit
    busuk daun atau nawar daun atau late blight
    5. Thung
    Umbi berbentuk bulat gepeng. Kulitnya berwarna kuning.
    Dagingnya putih kekuning-kuningan. Bobot rata-rata 55,5 gram dan
    mempunyai keseragaman umbi. Tanaman peka terhadap penyakit dan
    hama
    6. Catella
    Termasuk kentang yang umurnya genjah (pendek). Seperti
    granola dimana umur 100 hari sudah bisa di panen. Umbinya bulat,
    daging umbi kuning. Kandungan patinya sedang. Namun, tanaman ini
    tidak tahan penyakit busuk daun.
    7. Agria
    Kentang introduksi dari Belanda. Umbinya besar seperti umbi
    ketelah rambat. Kuning umbi kuning, daging umbi kuning tua.
    Tanaman tahan penyakit virus PUY, penyakit busuk daun dan umbi
    juga tanam serangan nematoda serta keropeng. Varietas agria
    direkomentasikan sebagai varietas yang cocok untuk keripik dan
    kentang goreng.
    2.2.2 Kentang Putih
    1. Marita
    Umbi berbentuk bulat gepeng, seragam dan bobot tanaman
    ratanya 43,3 gram. Varietas yang ditanam di lembang dan Cianjur
    cukup tanam penyakit. Umbinya terasa enak dan warna daging umbi
    putih kekuning-kuningan
    2. Diamant
    Produktivitasnya tergolong tinggi. Bentuk umbi oval sampai
    oval memanjang. Kulit umbi berwarna putih, daging umbi putih
    kekuning-kuningan. Tanaman tahan penyakit busuk daun. Kulit umbi
    dan penyakit virus A. Selain itu, tahan juga terhaap nematoda biotipe A.
    2.2.3 Kentang Merah
    1. Desiree
    Merupakan hasil persilangan kentang Urgenta dan Depesche.
    Umur panennya 100 hari, produktivitasnya tinggi. Bentuk umbi oval
    bulat sampai oval, kulit umbi berwarna merah, daging umbi kuning
    kemerahan. Tanaman peka terhadap penyakit busuk daun, penyakit layu
    dan penyakit virus PLRV (daun menggulung)
    2. Kondor
    Varietas yang diintorduksi dari Belanda. Umbinya besar mirip
    ubi jalar. Kulit umbi merah tetapi daging umbi kuning terang. Bentuk
    umbi oval atau lonjong. Produksinya tinggi, tahan penyakit virus PVY
    Penggulung daun, penyakit busuk daun dan penyakit umbi.
    2.2.4 Varietas lain
    1. Draga
    Umbi berbentuk bulat gepeng, seragam dan warna dagingnya
    seperti marifa, (putih kekuning-kuningan). Bobot umbi rata-rata 71,4
    gram. Tahan penyakit tetapi peka serangan hama.
    2. Cardinal dan Premiere
    Cardinal memiliki produksi yang lebih rendah dibanding
    premiere, tapi memiliki kadar gula yang tinggi.
    3. Alpha
    Varietas hasil persilangan antara varietas Paulkruger dan
    Preferent.
    4. Kentang Industri
    Kentang ini berkadar pati tinggi contohnya :
    a. Atlante, Frying Potatos
    b. Pinky, Pink Skin Golden Potatos
    c. Dawmore
    d. Kentang Panjang
    e. Kentang Bulat.
    2.3 Memilih dan Menyiapkan Lahan
    2.3.1 Syarat Tumbuh
    Tanaman kentang tergolong jenis tanaman yang tidak bisa tumbuh
    dari sembaran tempat. Oleh karena itu, jika ingin sukses dan meraih
    keuntungan besar, termasuk mengurangi kerugian atau kegagalan, harus
    memperhatikan yang disenangi tanaman ini. Berikut ini beberapa faktor
    lingkungan yang dijadikan syarat tumbuh tanaman kentang.
    1. Suhu
    Kentang dapat tumbuh di daerah tropis tapi tetap saja
    membutuhkan daerah berhawa dingin atau sejuk. Suhu udara ideal
    untuk kentang berkisar antara 150 – 180C pada malam hari dan 24 – 30
    0C di siang hari.
    2. Ketinggian
    Kentang dapat tumbuh subur di tempat-tepat yang sukup tinggi.
    Seperti di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 500 – 3000
    mdpl. Namun tempat yang ideal berkisar antara 1000 – 1300 mdpl.
    Kentang yang ditanam di ketinggian kurang dari 1000 mdpl biasanya
    kecil-kecil, seperti kentang yang ditanam di Batu, Malang, Jawa Timur,
    yang mempunyai ketinggian sekitar 800 mdpl.
    3. Curah hujan
    Curah hujan juga berpengaruh terhadap tanaman kentang. Curah
    hujan yang agak tepat bila besarnya kira-kira 1500 mm per tahun.
    Hujan yang turun dapat secara terus-menerus sepanjang hari atau
    terputus-putus pada hari tertentu saja.
    4. Angin
    Angin ternyata juga berpengaruh terhadap kentang. Angin yang
    terlalu kencang kurang baik untuk tumbuhan berumbi. Pasalnya angin
    keras bisa merusak tanaman, dapat mempercepat penularan penyakit
    dan vektor penyebar bibit penyakit mudah terbawa keman-mana.
    2.3.2 Persiapan lahan
    Lahan untuk bertanam kentang harus tanah yang gembur atau
    sedikit mengandung pasir agar mudah diserapi air dan mengandung humus
    yang tinggi.
    1. Penggemburan
    Tanah untuk penanaman kentang pada umumnya dibajak
    terlebih dahulu, yang kemudian setelah beberapa hari siap untuk
    dicangkuli agar tanah menjadi remah dan gembur. Setelah beberapa hari
    tanah kembali dibajak dan dicangkuli. Jadi tanah untuk kentang
    memerlukan dua kali pembajakan dan pencangkulan.
    2. Membuat Guludan
    Guludan secara definitif adalah tanah yang permukaannya
    ditinggikan. Pekerjaan meninggikan permukaan itu dilakukan sambil
    menggemburkan tanah ( disekitar tanaman ) dengan maksud agar erasi
    udara dalam tanah menjadi baik.
    3. Pupuk Dasar
    Pupuk dasar adalah pupuk yang diberikan sebelum penanaman
    dilakukan. Pupuk ini bisa berupa pupuk organik. Untuk jenis pupuk
    kandang misalnya berasal dari sapi atau domba. Begitu ula pupuk
    kompos bisa berasal dari tanaman jagung, rumput, atau sampah
    dedaunan. Selain pupuk organik, pupuk dasar juga berupa anorganik
    (pupuk buatan).
    4. Jarak dan Lubang tanam
    Kalau bibitnya seukuran telur bebek, jarak tanamnya 35 cm. jika
    bibitnya seukuran telur ayam, jaraknya 25 cm. Sedangkan ukuran
    guludannya antara 75 cm – 80 cm atau lebih idealnya minimal 100 cm
    untuk dua barisan. Kemudian untuk tinggi guludan sedalam bajakan
    ( 30 – 40 cm ) atau sedalam cangkulan ( 20 – 30 cm ). Lubang tanaman
    posisinya “pas di tengah-tengah” guludan.
    catatan :
    o = Tanaman
    (a) dan (c) = Guludan
    b = Jarak antar guludan
    untuk saluran got
    (d) = Jarak tanaman /
    lubang tanaman dari
    pingiran gluduan
    (e) = Jarak antar barisan
    tanaman
    2.4 Penanaman Bibit Kentang
    2.4.1 Penyiapan Bibit
    Bibit kentang adalah bagian tanaman berupa umbi dan bukan biji
    botani. Umbi yang akan ditanam perlu diseleksi dulu, dipilih yang sehat
    dan berasal dari tanaman yang bebas hama dan penyakit.
    1. Pembenihan Kentang
    Jika ukuran kentang 30 – 60 gram tunasnya akan keluar sekitar
    3 bulan 7 hari setelah disimpan digudang yang terang sedangkan bibit
    ukuran 10 – 30 gram keluar tunasnya sekitar 4 bulan. Namun, benih
    yang baik digunakan untuk pembibitan seukuran telur ayam sampai
    telur bebek dengan bobot antara 30 – 80 gram. Benih yang siap tanam
    jika panjang tunas antara 2 – 3 cm dan jumlahnya 3 – 5 tunas.
    2.4.2 Penanaman Bibit
    Penanaman dilakukan seminggu setelah lahan disiapkan, berikut
    langkah-langkah penanaman kentang sebagai berikut :
    1. Lubang tanam disiapkan dengan kedalaman seukuran bibit atau
    kira-kira 7,5 – 10 cm. Lubang tanam jangan terlalu dalam karena dapat
    menurunkan bobot produksi.
    2. Setelah itu, bibit ditanam. Bibit yang ditanam harus sudah
    tumbuh tunasnya sekitar 2 – 3 cm. Bibit ditanam dengan posisi tunas
    yang tumbuhnya paling baik menghadap ke atas.
    3. Kemudian, bibit ditimbun hingga batas mata tunas ( tunas yang
    tumbuh berada di atas permukaan ).
    4. Tunas yang tumbuh di atas permukaan tanah disemprot dengan
    pestisida untuk mencegah serangan hama dan penyakit. Dosis pestisida
    yang digunakan petani per satu hektar 400 – 600 liter larutan.
    2.5 Pemeliharaan Tanaman Kentang (Tolong jangan sampai pisah dengan yang
    diatas)
    2.5.1 Pemupukan
    Yang perlu dicatat bahwa ada yang memberikan pupuk urea, ZA,
    TSP, KCL, NPK, dan pupuk-pupuk lainnya dilakukan 20 hari sekali,
    dengan pertimbangan sebagai berikut :
    1. Setelah tanaman berumur 20 – 30 hari sejak bibit ditanam, mulai
    ada pembentukan umbi dan pada umur ini tanaman diberi pupuk NPK.
    2. Umur 40 – 50 hari, tanaman diberi pupuk yang kandungan HPnya
    tinggi.
    3. Umur 60 hari, tanaman diberi pupuk yang kandungan PK-nya
    tinggi.
    4. Umur 90 – 100 hari, tanaman diberi pupuk yang kandungan HPnya
    tinggi.
    Tabel Jenis dan Takaran Pupuk
    Waktu
    Pemupukan
    Pupuk
    Organik
    Pupuk Anorganik
    Urea TSP/SP-36 KU ZA
    Kilogram per hektar
    1. pup
    uk Dasar
    (rata-rata)
    2. Sus
    ulan I
    3. Sus
    ulan II (35-
    42 HST)
    20.000
    00
    225
    0
    55 – 220
    300
    00
    100
    0
    50
    150
    00
    Catatan : HST = Hari setelah tanam; Sumber: Vademikum Agribisnis sayuran.
    Direktorat Bina Produksi Holtikultura, Direktorat Jendral Tanaman Pangan dan
    Holtikultura, Departemen Pertanian RI.Jakarta.1998.
    a.
    Pupuk Dasar
    ( rata-rata )
    b. Susulan I
    (21 HST)
    c. Susulan II
    (45 HST)
    a. Saat
    pengelolahan /
    pembuatan guludan /
    campur merata :
    5000 – 10000
    b. Seming
    gu sebelum tanam : 5000
    - 10000
    0
    0
    200
    100
    150
    200
    250
    0
    75
    150
    75
    0
    100
    Catatan : (*) HST=hari setelah tanam; Sumber: Petani kentang di Pangalengan;
    (*) takaran yang lebih lengkap dapat diliat pada lampiran. Adanya variasi
    pemberian itu karena kondisi tanah berbeda, seperti kesuburan tanah, PH tanah
    dan struktur tanahnya.
    2.5.2 Penyiangan
    Penyiangan atau pembersihan rumput dan gulma dilakukan pada
    saat pemupukan susulan I ( 20-an HST ) dan susulan II ( 40-an HST ) atau
    pada saat tanaman berumur sekitar 30 hari dan 50 hari. Penyiangan tidak
    hanya memberantas gulma saja, tetapi juga membetulkan saluran air.
    2.5.3 Pembubunan
    Pembubunan dilakukan bersama dengan penyiangan. Pembubunan
    dilakukan dengan mempertinggi permukaan tanah di sekitar tanaman agar
    lebih tinggi dari tanah disekelilingnya. Tujuannya agar perakaran tanaman
    akan menjadi lebih baik, menghindarkan umbi kentang dari sinar matahari
    sehingga racun sosalin yang ada dalam umbi kentang yang membahayakan
    kesehatan, tidak akan muncul. Racun ini akan timbul bila umbi terkena
    sinar matahari.
    2.5.4 Pengendalian Yang Lain
    Pengendalian yang lain ikut berperan dalam produktivitasnya dan
    kualitas umbi adalah sebagai berikut :
     Pada umur 25 – 30 hari, tanaman kentang mulai mengeluarkan
    bunga. Oleh karena itu, sebelum mekar, bunga segera dibuang agar
    umbi tidak tumbuh kecil-kecil.
     Penyiraman tidak boleh terlampau banyak air berlebih bisa
    menghentikan pertumbuhan umbi. Jadi penyiramannya cukup membuat
    permukaan tanah basah.
     Kalau menanam kentang pada musim kemarau. Dalam satu
    periode / musim tanam, penyiraman dilakukan 16 kali atau 20 hari
    sebelum panen, penyiraman harus dihentikan.
     Dilakukan penyemprotan terhadap tanaman secara merata
    keseluruhan bagian tanaman sampai bagian tanaman yang disebelah
    bawah.
    2.6 Hama dan Penyakit
    2.6.1 Hama dan Pengendalian
    2.6.1.1 Hama Aro
    Nama lainnya laneng, laler atau uler batik. Hama ini sejenis
    lalat daun.
    1. Gejala
    Daun berlubang-lubang kecil. Setelah telur menetas akan
    menyorok ke dalam daun bahkan sampai ke tulang daun.
    Biasanya datang saat berumur 20 – 35 hari dan berlanjut.
    2. Pengendalian
    · Menanam bibit yang sehat.
    · Menanam tanaman perangkap yang bunganya berwana
    kuning. Ditanam dua minggu sebelum HST.
    · Daun / bagian tanaman kentang yang sudah diserang
    diambil dan dibakar.
    · Dilakukan penyemprotan insektisida setelah tanaman
    berumur 30 – 40 hari.
    2.6.1.2 Kutu Daun (Aphididax)
    1. Gejala
    Daun yang diserang akan keriput, berkerut-kerut karena
    cairannya dihisap. Tanaman tumbuh kerdil, warna daunnya
    kekuning-kuningan dan terpuntir dan menggulung, kemudian
    layu dan akhirnya tanaman tidak hanya terhambat
    pertumbuhannya melainkan bisa juga mati.
    2. Pengendalian
    · Membakar bagian tanaman yang diserang.
    · Memasang kain kasa di lahan pertanaman kentang.
    · Memesang perangkat air berwarna kuning.
    2.6.1.3 Hama lain
    1. Ulat Penggulung daun
    Gejalanya warna daun menjadi merah tua. Daun-daun
    menggulung dan berisi larva. Cara pengendaliannya sebagai
    berikut :
    · Hindari penanaman kentang pada musim kemarau.
    · Hindari keretakan tanah karena larva akan merusak
    umbi.
    · Sering melakukan pembubunan.
    2. Ulat Tanah
    Gejalanya daun tanaman yang diserang tampak terbelahbelah.
    Batang dan tangkai karena dipotong dan dikerat……….?.
    Cara pengendalian sebagai berikut :
    · Melakukan pengelolahan tanah yang dalam.
    · Mehilangkan rumput atau tanaman lain.
    · Hindari pula lahan pertanaman kentang dari tanaman
    inang.
    3. Ulat Bawang
    Gejala yang terjadi daunnya berlubang-lubang, daun
    tanaman berongga, tampak ada alur berwarna putih.
    4. Ulat Jengkal
    Menyerang buah dan memakan daun. Dan cara
    pengendalian sebagai berikut :
    · Hindarkan tanaman kentang dari tanaman inang.
    · Sering melakukan pembubunan.
    5. Epilachma SP
    Mulai menyerang dengan membuat semacam jendela
    pada permukaan daun. Cara pengendalian sebagai berikut :
    · Hindari penanaman kentang pada musim kemarau.
    · Hindari keretakan tanah.
    · Sering melakukan pembubunan.
    6. Anjing Tanah
    Membuat umbi yang sudah tua berlubang-lubang dan
    lalu busuk. Cara pengendaliannya sebagai berikut :
    · Membumbun tanah disekitar tanaman.
    · Menyirami tanah disekitar tanaman.
    2.6.2 Penyakit
    2.6.1 Penyakit Hawar Daun
    Gejalanya daun berbercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu
    dan agak basah, lalu berubah menjadi coklat sampai hitam. Dan cara
    pengendalian sebagai berikut :
    · Membuang dan membakar
    tanaman yang sakit.
    · Mengatur waktu tanam.
    · Lahan yang sudah pernah
    tercemar penyakit selama beberapa kali musim agar tidak
    ditanami.
    2.6.2 Penyakit Layu
    1. Layu Bakteri
    Gejalanya berawal dari bakteri yang masuk ke dalam
    tanaman melalui akar yang terluka dan menyerang umbi. Berikut
    cara pengendaliannya :
    · Membuang tanaman yang
    sudah terinfeksi dan membakarnya.
    · Lahan pertanaman kentang
    harus jauh dari pertanaman pisang, tomat, cabai, dan kacangkacangan.
    · Lahan harus mempunyai
    drainase yang baik.
    · Layu Fusarium
    Penyakit ini masuk melalui luka atau jaringan bercak.
    Lama kelamaan umbi menjadi kering keriput, bertepung dan
    keras. Cara pengendalian sebagai berikut :
    · Gudang penyimpanan bebas
    dari penyakit sebelum digunakan.
    · Melukakan penyairan tanaman
    yang bukan tanaman terung-terungan.
    2.7 Panen
    2.7.1 Umur Panen
    Untuk menanam umbi, untuk benih atau bibit dibutuhkan umurnya
    70 – 75 HST. Hal-hal yang perlu diperhatikan.
    1. Tanaman bagian atas ( daun dan
    batang ) mengering / menguning secara merata. Tapi belum bisa
    dipanen. Untuk itu tanaman dibiarkan dulu sampai bagian atas tanaman
    menjadi kering semuanya. Lama proses pengeringan sekitar 7 – 15 hari
    ( sejak tanaman mulai mengering ). Atau pada umur 70 – 85 HST,
    tanaman dipangkas tapi umbi kentang tetap dibiarkan di dalam tanah.
    2. Dilakukan penyemprotan pestisida
    setelah pemangkasan tapi dengan tujuan umbi kentang digunakan
    untuk bibit.
    3. Tapi kalau dengan tujuan untuk
    dikonsumsi. Setelah dipangkas, lalu ditutup tanah lagi agar tidak
    terkena sinar matahari.
    2.7.2 Cara Panen
    Pemanenan bisa menggunakan garu atau skrop, cangkul. Tanah
    disekitar umbi digemburkan secara hati-hati agar tidak melukai umbi.
    Setelah guludan roboh umbi diangkat dan diangin-anginkan agar kulit umbi
    menjadi kering dan kotoran tanah akan terlepas.
    2.8 Pasca Panen
    2.8.1 Seleksi Mutu
    Jika dibutuhkan untuk bibit umbi haruslah yang sehat, bermutu
    super, mempunyai 3 – 5 mata tunas, dan bobotnya 80 – 100 gram atau
    sebesar telur ayam, banyaknya mata tunas dapat menentukan jumlah
    rumputan tanaman. Tapi jika untuk konsumsi kentang yang umbinya
    kuning, permukaannya halus, penampakannya cerah, serta bermata dangkal.
    2.8.2 Seleksi Ulang
    Kentang diangin-anginkandi ruangan terbuka cukup 2 hari atau
    paling lam 5 – 7 hari, biasanya kentang yang diserang hama akan tampak
    diperiode ini.
    2.8.3 Hasil Panen
    Secara nasional dalam kisaran 82,00 – 160,38 Kw/hektar. Tapi
    secara statistik perolehan 72,00 – 230,00 Kw/hektar
    2.8.4 Penyimpanan
    Kentang konsumsi dimasukkan dalam kantong-kantong plastik.
    Untuk kentang bibit dimasukkan ke dalam keranjang-keranjang bambu
    kemudian gudang dilapisi plastik atau diberi ganjal kayu sebelum
    dimasukkan ke kantong atau keranjang, umbi kentang harus bersih dari
    tanah

    budidaya wortel


    Budidaya dan Cara Menanam Wortel
    Budidaya dan Cara Menanam Wortel - Wortel yang biasa ditemui sebagai sayuran pelengkap dalam membuat sop ternyata banyak sekali manfaat yang terkandung didalamnya. Selain Vitamin A yang baik untuk kesehatan mata, wortel ini juga dapat mengurangi kadar kolesterol dalam darah dan juga memperlancar buang air besar karena kandungan serat dalam wortel dapat menaikkan volume feses hingga 25%.

    Wortel ini merupakan tumbuhan biennial atau siklus hidup 12 - 24 bulan yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah yang besar untuk tumbuh berbunga pada tahun kedua. Batang bunga dapat tumbuh setinggi sekitar 1 m, dengan bunga berwarna putih. Wortel merupakan tanaman yang hanya dapat tumbuh pada dataran tinggi. tanaman ini membutuhkan lingkungan tumbuh dengan suhu udara yang dingin dan lembab. Untuk pertumbuhan dan produksi umbi dibutuhkan suhu udara optimal antara 15,6 hingga 21,1 derajat C. Suhu udara yang terlalu tinggi atau panas seringkali menyebabkan umbi kecil-kecil dan berwarna pucat/kusam. bila suhu udara terlalu rendah, maka umbi yang terbentuk menjadi panjang kecil.

    Pedoman Teknis Budidaya Wortel dan Cara Menanam Wortel
    - Pembibitan
    Wortel diperbanyak dengan cara generatif dengan bijinya. Biji atau benih wortel ini dapat dibeli ditoko-toko sarana produksi pertanian yang terdekat, tetapi bisa juga dengan membenihkan sendiri, terutama jenis/varietas wortel lokal dan non hibrida.
    Untuk pembenihan wortel lokal dapat mengikuti tahapan berikut ini ;

    1. Pilihlah tanaman wortel yang umurnya sudah cukup tua ± 3 bulan, tumbuh subur dan juga sehat. cabut tanaman wortel pilihannya tadi, selanjutnya amati umbi-nya, Umbi wortel yang baik dan sehat jadikan pohon indukan, bentuk umbi normal, tidak cacat, warna kulit mengkilap kuning/jingga serta halus.
    2. Potong pada ujung umbi wortel maksimal sepertiga bagiannya, pangkas pula tangkai daun bersama daunnya, sisakan 10 cm yang lekat pada umbi.
    3. Siapkan lahan untuk pembibitan tanaman wortel dalam bentuk bedengan-bedengan yang diolah secara sempurna diberi pupuk kandang secara optimal.
    4. Buatkan lubang tanam dengan alat bantu cangkul dengan jarak tanam 40-60 cm x 40-60 cm.
    5. Tanamkan umbi wortel pada lubang media tanam yang sudah dibuat, padatkan juga tanahnya secara perlahan-lahan hingga menutup bagian leher batang.
    6. Buat alur-alur dangkal disepanjang barisan tanaman wortel ± 5 cm dari batang.
    7. Lakukan pemberian pupuk buatan berupa campuran ZA + SP + KCL (1:2:2) sebanyak 10 gr/bibit tanaman, kemudian pupuk tersebut ditutup dengan tanah tipis .
    8. Pelihara bibit wortel selama ± 3 bulan, hingga menghasilkan tangkai buah dan biji dalam jumlah banyak.
    9. Petiklah tangkai buah wortel yang sudah tua atau kering, lalu jemur hingga kering untuk diambil bijinya.

    - Teknik Penyemaian Benih
    Biji wortel ditaburkan secara langsung di media tanam, dapat jugga disebarkan secara merata disetiap bedengan atau dengan dicicir memanjang dalam barisan. Jarak antara barisan paling tidak 15 cm, kemudian jika sudah tumbuh dapat dilakukan penjarangan sehingga tanaman wortel itu berjarak 3-5 cm satu sama lainnya. Kebutuhan benih atau bibit setiap are-nya antara 150-200 gram. Untuk Biji wortel biasanya akan mulai berkecambah setelah berumur 8-12 hari.

    - Pengolahan Media Tanam
    Mula-mula tanah dicangkul sedalam kurang lebih 40 cm, dan diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 15 ton setiap hektarnya. Selanjutnya dibuatkan bedengan-bedengan selebar 100 - 150 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar bedengan 50-60 cm dan panjang tergantung pada keadaan lahan.

    - Cara Menanam Wortel
    Tata cara penanaman benih wortel dengan melalui tahapan sebagai berikut:
    1. Sebarkan (taburkan) benih wortel secara merata dalam alur-alur/garitan-garitan yang tersedia.
    2. Tutup benih wortel dengan tanah tipis sedalam 0,5-1 cm.
    3. Buat alur-alur dangkal sejauh 5 cm dari tempat benih arah barisan (memanjang) untuk meletakkan pupuk dasar. Jenis pupuk yang diberikan adalah campuran TSP ± 400 kg (± 200 kg P2 O5/ha) dengan KCl 150 kg (± 75 kg K2O/ha).
    4. Sebarkan pupuk tersebut secara merata, kemudian tutup dengan tanah tipis.
    5. Tutup tiap garitan (alur) dengan dedaunan kering atau pelepah daun pisang selama 7-10 hari untuk mencegah hanyutnya benih wortel oleh percikan (guyuran) air sekaligus berfungsi menjaga kestabilan kelembaban tanah. Setelah benih wortel tumbuh di permukaan tanah, penutup tadi segera di buka kembali.

    - Pemeliharaan Tanaman
    Lakukan penjarangan antara tanaman wortel yang satu dengan lainnya. ini dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah masa tanam. Tujuannya adalah untuk memperoleh tanaman wortel cepat tumbuh dan subur, sehingga diharapkan hasil panen memuaskan. Lakukan pembersihan terhadap Rumput-rumput liar atau gulma yang tumbuh disekitar tanaman. Rumput liar yang tumbuh dalam parit juga dibersihkan agar tidak menjadi sarang hama maupun penyakit. Tanah di sekitar barisan tanaman wortel digemburkan, kemudian ditimbunkan kebagian pangkal batang wortel agar kelak umbinya tertutup oleh tanah.

    - Panen
    Ciri-ciri tanaman wortel sudah dapat dipanen adalah sebagai berikut:
    1. Tanaman wortel yang telah berumur ± 3 bulan sejak sebar benih atau tergantung varietasnya. Varietas Ideal dipanen pada umur 100 sampai 120 hari setelah tanam.
    2. Ukuran umbi telah maksimal dan tidak terlalu tua. Panen yang terlalu tua atau terlambat panen ini dapat menyebabkan umbi menjadi keras dan berkatu, sehingga kualitas wortel menjadi rendah atau tidak laku dipasarkan. Demikian juga untuk panen terlalu awal hanya akan menghasilkan umbi berukuran kecil, sehingga produksi wortel menjadi turun.

    Untuk Cara panen wortel ini relatif gampang, yaitu dengan mencabut seluruh tanaman bersama umbi-umbinya. Tanaman yang baik dan dipelihara secara intensif dapat menghasilkan umbi antara 20-30 ton/hektar.

    BUDIDAYA SEMANGKA NON BIJI

    BUDIDAYA SEMANGKA NON BIJI ( Citrullus vulgaris . scard).
    1.CULTIVAR / VARIETAS.
        Dragon, Round Dragon, Super New Dragon, Super King, 144, Diana
        Bangkok ,dan masih banyak varietas lainya.
    2.SYARAT TUMBUH.
               Ketinggian Tempat Tanam
               Ketinggian 100-400 meter di atas permukaan laut (dpl) cocok untuk menanam   tanaman semangka. Namun, saat ini sudah ada beberapa varietas semangka yang cocok ditanam di dataran tinggi hingga 900 meter dpl.
    Keadaan Tanah
    Semangka sebaiknya ditanam di lahan bertekstur remah atau gembur, subur dan banyak mengandung unsur hara. Semangka membutuhkan tanah dengan keasaman (pH) berkisar 5-7. Penetralan tanah dilakukan dengan pengapuran.        
              Sinar Matahari
              Tanaman semangka membutuhkan sinar matahari penuh untuk pertumbuhannya. Lahan penanaman sebaiknya tidak tertutupi naungan atau tanaman lain yang dapat menghalangi pancaran sinar matahari
               Suhu
    Suhu ideal untuk pertumbuhan semangka, baik pertumbuhan vegetatif maupun generatif adalah 24-30oC. Perbedaan suhu ekstrim antara siang dan malam dapat mengganggu pertumbuhan semangka      
              Curah Hujan
              Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan semangka berkisar antara 40-50 mm per bulan. Curah hujan yang tinggi dapat menimbulkan serangan berbagai penyakit, baik yang disebabkan oleh bakteri maupun cendawan.
    3. PENGOLAHAN LAHAN.
         Pengolahan tanah dikerjakan 10-14 hari awal dari pada pembibitan karena
         diharapkan pada saat bedengan telah siap ditanami,bibit pun telah siap pindah
         tanam.
    Pembentukan bedengan penanaman disesuaikan dengan model penanaman,yaitu bentuk penanaman searah (tunggal) atau bentuk penanaman berhadap-hadapan (ganda).
    Cara Penanaman tunggal.
    Bentuk penanaman tunggal artinya penanaman satu baris tanaman pada bedengan penanaman menuju kearah satu arah.bentuk ukuranya sebagai berikut : panjang bedengan maksimal 12-15 cm, tinggi bedengan 30-50 cm, lebar bedengan 85-100 cm,percabangan tanaman 2,5-2,50 m,lebar parit 50 cm,kedalaman parit 20-25 cm,jarak antarbedengan 3 – 3,5 m.
    Cara Penanaman ganda.
    System penanaman ganda merupakan penanaman pada dua baris bedengan yang berhadap-hadapan.percabangan antar tanaman dapat saling bertemu karena penanamanya tidak searah.Ukuran bedengan 12-15cm,tinggi bedengan 30-50 cm,lebar bedengan 85-100 cm,menjalarnya percabangan 2,15 m-2,50 m,lebar parit 50 cm, kedalaman parit 20-25 cm, jarak bedengan berhadapan 6-7 m, lebar parit tengah antar bedengan 25 cm.Setelah bedengan bedengan penanaman diplot-plot dengan tali raffia,tanah bedengan penanaman tersebut dicangkul atau ditraktor
    dengan handstraktor.tanah yang diolah hanya selebar 85-100 cm atau tempat
    penanaman saja,sedangkan tanah tempat menjalarnya percabangan tidak
    perlu dicangkul cukup hanya dibersihkan gulmanya saja
        Pengapuran
        Apabila pH tanah rendah atau bertanah masam perlu ditambahkan kapur
        pertanian.kapur pertanian yang beedar saat ini adalah kalsit (kaptan) dan    dolomite
        (calmag).apabila tidak memiliki alat pengukur pH tanah,berdasarkan pengalaman
        kapur yang digunakan berkisar 50-100 g pertanaman atau 175-350 kg
        perhektar.pada saat bedengan kasar terbentuk,kapur ditebar tipis-tipis dahulu,
        semakin lama semakin tebal dan merata.tanah bedengan kemudian kemudian
       diaduk dengan kapur,lalu disiram air secukupnya agar kapur segera bereaksi.
       Pemupukan dasar.
    System pemupukan semangka tanpa biji dengan menggunakan mulsa (PHP).ada dua penggunaan pupuk yaitu pupuk kandang dan kimia.pemberian pupuk kandang untuk semangka tanpa biji system mulsa (PHP) cukup 1,5 kg/tanaman,pada tanah liat dan miskin pupuk organic dosis pupuk kandang yang digunakan sebanyak 2-3 kg/tanaman.pupuk kandang dipilih yang benar-benar matang.pupuk kandang yang masih mentah (basah) akan terurai terlebih dahulu didalam tanah dengan mengeluarkan panas yang dapat mematikan tanaman.ciri pupuk kandang yang telah matang adalah warnanya hitam dan bila tangan kita dimasukan kedalamnya,tidak terasa hangat.cara penebaran diberikan dengan cara ditebar,untuk semangka tanpa biji pupuk kandang yang diberikan sebanyak 1,5 kg x 18 = 27 kg atau setiap satu m2 diperlukan pupuk kandang 1,8 kg.setelah penaburan pupuk kandang,pupuk kandang harus diaduk dengan cangkul agar segera bercampur dengan tanah.bedengan dirapikan kembali dan dibiarkan (diangin-anginkan) selama satu minggu agar gas-gas beracun hilang.
    Setelah bedengan diberi pupuk kandang, selanjutnya diberi pupuk kandang.pupuk kimia diberikan satu minggu setelah pemberian pupuk kandang.pupuk kimia yang digunakan yaitu ZA,Urea,TSP/SP-36,KCL, Borate/fertibor/borak.pupuk kimia tersebut ditambah insektisida karbofuran (missal furadan,curaterr,petrofur) diaduk menjadi satu.dengan system mulsa PHP, pupuk kimia yang diberikan untuk semangka tanpa biji pertanaman sekitar 259,5 gr yang merupakan campuran dari 85 g ZA,50 gr Urea,30 gr TSP (SP-36),85 KCL,ditambah 2 gr pupuk mikro borate dan 7,5 g karbofuran.secara mudah,pencampuran dilakukan dengan perbandingan 2 ZA : 1 Urea :3/4 TSP (SP-36) :2 KCL. Untuk setiap 1- kg campuran pupuk tersebut,ditambahkan 80 g borate dan 300 g insektisida karbofuran.                          
             Pemulsaan pada budidaya semangka tanpa biji dengan mulsa PHP
             Manfaat mulsa PHP
             Sesuai namanya, mulsa PHP terdiri dari dua lapis warna,pada bagian atas berwarna
             perak danbagian bawah berwarna hitam.pada saat pemasangan mulsa jangan sampai
             terbalik karena bila pemasangan terbalik maka pengaruh mulsa akan
             berbeda.manfaat penggunaan mulsa PHP tersebut adalah sebagai berikut
    - Merangsang perkembangan akar.
    - Mempertahankan struktur suhu dan kelembaban tanah.
    - Mencegah erosi tanah.
    - Menekan pertumbuhan gulma.
    - Mengurangi penguapan air dan pupuk.
    - Meningkatkan proses fotosintesis
    - Menekan perkembangan hama dan penyakit
    - Meningkatkan kualitas buah.
             Pemasangan mulsa ( plastic hitam perak ).
             Setelah pupuk kimia diaduk rata bercampur dengan tanah,bedengan dirapikan dan disirami air secukupnya agar pupuk segera bereaksi.pemasangan mulsa dilakukan tepat setelah pemupukan kimia selesai.bila pemasangan mulsa dilakukan sehari setelah pemupukan,sebagian pupuk sudah menguap.
    Mulsa dipasang dengan menarik kedua ujung mulsa pada kedua ujung bedengan.kaitkanterlebih dahulu salah satu ujungnya dengan bedengan dengan pasak penjepit mulsa, kemudian disusul ujung satunya.secara bersamaan,kaitkan kedua sisi mulsa dengan bedengan dengan pasak penjepit.pemasangan mulsa harus pada saat ada cahaya matahari karena pada saat itu mulsa akan mudah meregang sehingga mudah ditarik kencang.hasilnya permukaan bedengan menjadi tertutup mulsa secara kencang sehingga terkesan rapi dipandang.pemasangan mulsa pada saat cuaca mendung,pemasangan sebaiknya ditunda sampai ada sinar matahari karena apabila dipaksakan,meskipun hasil pemasangan rapi,tetapi pada saat cuaca panas mulsa terlihat mengendor.setelah mulsa PHP terpasang diamkan selama 5 hari,kemudian buat lubang tanam dengan jarak tanam 85 cm.lubang tanamdibuat melingkar dengan deameter 10 cm.cara membuatnya dengan menggunakan kaleng bekasa susu yang permukaanya bergerigi ataupun dengan menggunakan plat panas
    4. PERSEMAIAN.
              Mempersiapkan Media Tanam
    Pembibitan dapat dilakukan di dalam polybag ataupun plastik bening dengan
              diameter 4-5 cm. Media tanam dapat berupa campuran tanah gembur atau humus
              dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Untuk melengkapi unsur hara, NPK
              sebanyak satu sendok makan dapat ditambahkan ke dalam 20 kg campuran media
              tanam. Sebelum media dipergunakan, sebaiknya diayak dulu untuk menghilangkan
              kotoran.
        Serangan hama dan penyakit pada bibit semangka bisa dicegah dengan pemberian
        pestisida di media tanam sesuai dosis pada kemasan. Cara lain melalui sterilisasi
        media tanam dengan cara disangrai. Setelah siap, masukan media tanam ke dalam
        polybag sampai 2/3 bagian.
              Pembenihan
    Biji semangka mempunyai kulit yang keras sehingga sulit berkecambah. Untuk
    merangsang pertumbuhannya, biji semangka harus "dibangunkan" dari masa
    dormansinya. Caranya dengan merendam bji semangka ke dalam air hangat
    bersuhu sekitar 40oC sejak pagi hingga sore hari. Setelah direndam, biji ditiriskan
    dan dibungkus menggunakan kain basah selama semalam. Keesokan paginya
    biasanya kulit semangka sudah retak dan biji mudah berkecambah. Perendaman
    juga bagian dari sortasi, biji yang mengambang berarti biji yang jelek.
              Penanaman Benih
    Sebelum benih semangka dimasukkan ke dalam polybag, terlebih dahulu dibuat
    lubang tanam menggunakan kayu atau bambu bulat dengan diameter dan
    kedalaman sekitar 0,5 cm. Setelah itu, benih semangka ditanam lalu ditutupi
    dengan pupuk kandang halus.
              Untuk menghindari hama dan penyakit, serta untuk mempertahankan kelembaban,
              bedengan pembibitan ditutup rapat menggunakan plastik bening yang diberi rangka
              bambu berbentuk setengah lingkaran. Ukuran bedengan untuk 16.000-17.000 benih
              semangka memiliki panjang 23-24 meter, lebar 110-125 meter, dan tinggi sekitar
              75 cm.
              Pada hari ketiga biasanya lembaga biji sudah keluar, kemudian diikuti dengan
              tumbuhnya daun beserta sulur. Lahan seluas 1 ha membutuhkan benih semangka
              sebanyak 650 gram yang akan menghasilkan sekitar 9000 tanaman.
              Pemeliharaan Bibit
              Pemeliharaan dilakukan antara lain dengan penyiraman setiap kali terlihat kering.
              Setelah tumbuh dua helai daun, tudungan plastik dibuka sebelum pukul 9 pagi dan
              sesudah pukul 5 sore agar tanaman terkena sinar matahari langsung. Sejak hari ke-
              15, tudungan dilepas agar tanaman mudah beradaptasi terhadap sinar matahari.
           
    5. PENANAMAN.
               Bibit siap dipindahkan apabila sudah berumur 20 hari atau sudah mengeluarkan
         empat helai daun.
               Jarak tanam
               Jarak tanam antar tanaman semangka tanpa biji dalam satu baris yang paling ideal
               yaitu 85 cm (system mulsa PHP).jarak tanaman semangka tanpa biji antar
               bedengan pada system tanam tunggal 3,0-3,5 m.jarak tanaman semangka tanpa biji
               antar bedengan pada system ganda 6-7 m.jarak tanam akan mempengaruhi
               populasi tanaman dan dapat digunakan sebagai peramalan produksi

    6. PEMELIHARAAN.
         Pemeliharaan tanaman semangka tanpa biji dengan system hamparan meliputi
          penyulaman,pemangkasan cabang,penyerbukan buatan,penjarangan
          buah,pemberian seresah,dan alas buah,pengairan,penyiangan dan
          pendangiran,pemupukan tambahan,serta pembalikan buah,serta pengendalian hama
          penyakit.
        . Penyulaman
          Tiga hari setelah penanaman, amati tanaman dan hitung jumlah tanaman apabila
          ada yang mati segera adakan penyulaman.musnahkan tanaman yang terserang hama
          penyakit atau mati agar tidak menular ketanaman yang lainya.

        . Pemangkasan cabang
          Tanaman semangka secara alami mempunyai percabangan yang banyak.ini
          menyebabkan pertumbuhan generative dan buah akan terhambat karena tanaman
          terlalu banyak menghasilkan daun.pemengkasan cabang pada tanaman semangka
          meliputi pemangkasan cabang utama dan pemangkasan cabang sekunder.
        . Penyerbukan buatan
          Budidaya semangka tanpa biji dengan penyerbukan buatan hanya memerlukan 1/8
          tanaman semangka berbiji sebagaipolinator.dengan kata lain,bunga jantan dari
          tanaman 1 semangka berbiji mampu menyerbuki 8 tanaman semangka tanpa
          biji,mengapa?karena hal ini tidak lain karena jumlah bunga jantan pada semangka
          berbiji sangat banyak dibandingkan dengan bunga betinanya.bunga betina
          semangka tanpa biji yang akan dipelihara yaitu bunga yang terletak diatas 1 m dari
          pangkal tanaman atau mulai ruas daun ke-13 atau 14.bunga betina pertama akan
          muncul pada ruas ke 6 atau ke 7.bunga ini dibiarkan gugur tidak diserbuki,apabila
          bunga pertama yang muncul dijadikan buah,biasanya hasil buah yang terbentuk
          tidak obtimal dan bentuknya tidak sempurna.
          Bunga jantan dari semangka berbiji dikumpulkan dalam satu wadah
          khusus,misalkan
       
         ember kecil atau kaleng.siapkan pula potongan tali raffia sepanjang 12 cm untuk
         tanda bahwa bunga betina telah diserbuki.penyerbukan dilakukan pada pagi hari
         antara 06.00-10.00 pada saat bunga betina sedang mekar.apabila penyerbukan telah
         lewat pukul 10.00 biasanya bunga betina sudah layu.
         Tempelkan bunga jantan semangka berbiji pada bunga betina semangka tanpa
         biji.tangan kiri memegang cabang yang ada bunga betinanya,sedangkan tangan
         memegang bunga jantan sebagai pollinator.usap-usapkan bunga jantan dengan
         gerakan memutar sehingga serbuk sarinya secara merata menyerbuki kepala putik
         bunga betina.lakuakan penyerbukan bunga betina pada ketiga cabang induk
         sebanyak-banyaknya (minimal 3 bunga percabang).untuk mendapatkan hasil yang
         memuaskan,1 bunga jantan pollinator hanya diserbukkan pada 1 bunga betina
         semangka tanpa biji.
      .  Penjarangan (seleksi) buah
         Setelah 3-5 hari peneyerbukan,akan diketahui keberhasilan penyerbukan
         tersebut.ciri  penyerbukan yang berhasil yaitu bunga betinanya yang pada saat
         diserbuki menghadap keatas menjadi berbalik menghadap kebawah dan bakal buah
         berkembang,sedangkan penyerbukan yang gagal bila bunga betina yang diserbuki
         gugur.bakal buah yang berbentuk bulat agak lonjong seperti telur,bentuk buah
         seperti inilah yang bakal menjadi bentuk dengan buah normal.lakukan seleksi buah
         bila buah yang berhasil diserbuki lebih dari 3 buah dalam 1 tanaman.apabila pada
         masing-masing cabang bakal buah yang jadi ada 2 maka dalam 1 tanaman terdapat 6
         bakal buah.buah-buah muda ini diseleksi dan dipilih yang memiliki pertumbuhan
         paling bagus,kemudian sisanya dihilangkan.seleksi buah seperti ini biasa dikenal
         sebagai penjarangan buah.

      . Pemberian seresah dan alas buah
        Pemberian seresah jerami pada budidaya semangka tanpa biji diberikan sebagai alas
        pada bagian bawah percabangan.pemberian alas ini bertujuan untuk menekan
        pertumbuhan gulma yang ada.semakin tebal alas jerami semakin baik,alas jerami
        juga diperlukan sebagai alas buah.buah yang tidak diberi alas bentuknya kurang
        normal dan mudah terserang penyakit.pada kondisi musim hujan jerami sebagai alas
        buah diganti dengan 2-3 potong bilah bamboo yang berukuran panjang 35 cm dan
        tebal 3 cm.hal ini dilakukan karena jerami yang basah akan meningkatkan
        kelembaban yang dapat merangsang perkembangbiakan pathogen penyakit tanaman.
      . Pengairan
       Air merupakan factor yang penting bagi tanaman hortikultura,terlebih tanaman
       semangka > 90 % air.tanaman semangka membutuhkan air yang banyak untuk
       pertumbuhan dan produksinya,tetapi tidak menyukai air yang tergenang.pada fase pembibitan,tanaman semangka memerlukan air yang cukup,kemudian kebutuhan air mulai meningkat pada fase pertumbuhan vegetative (pembentukan akar,batang,dan daun).memasuki fase generative (ditandai dengan munculnya bunga)pengairan dikurangi agar pembungaan berlangsung serempak.pengairan ditingkatkan lagi ketika tanaman memasuki fase pembesaran buah.pengairan ditingkatkan lagi ketika tanaman memasuki fase pembesaran buah,pengairan dikurangi lagi pada saat tanaman memasuki fase pemasakan buah (50-65 HST).
    .  Penyiangan dan pendangiran
     Pada budidaya semangka tanpa biji dengan menggunakan mulsa PHP,penyiangan gulma hanya dilakukan dilubang tanam dan disekitar parit.penyiangan dapat dilakukan satu kali dalam 1 musim tanam.pada budidaya semangka tanpa biji dengan menggukan mulsa PHP,tidak diperlukan pendangiran karena kondisi tanah tetap gembur,hanya bila terjadi erosi yang mengakibatkan perakaran tanaman mulai tampak,perakaran perlu ditutup kembali.
     . Pupuk tambahan / susulan.
    Pemupukan tambahan paa budidaya semangka tanpa biji perlu dilakukan,pupuk tambahan ini berupa pupuk daun dan pupuk kocoran (siraman).pada fase pertumbuhan vegetative (sampai umur 20 HST),tanaman semangka tanpa biji disemprot pupuk daun dengan kadar N tinggi (kemira Green 2 g/l).memasuki pertumbuhan generative,tanaman semangka tanpa biji disemprot denganpupuk daun dengan kandungan P dan K yang tinggi,dengan kemira Red 2 g/l.untuk merangsang pembesaran buah dan meningkatkan kadar gula dalam buah,pada umur 45-55 HST,tanaman diberi pupuk KNO3 yang dicairkan dengan konsentrasi 10-15 g/l.untuk satu lubang tanam disiram pupuk cair sebanyak 250 ml.                                    Pembalikan buah
    Pada budidaya system hamparan,buah-buah semangka tanpa biji harus sering dibalik agar warna kulit buah merata.pembalikan buah dilakukan secara hati-hati,jangan sampai tangkai buah putus.pembalikan buah ini cukup dilakukan 2 kaliseminggu.warna kulit buah yang tidak dibalik akan belang putih kekuningan karena tidak terkena sinar matahari.
       7.  PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT.
            Hama yang biasa menyerang pada tanaman semangka tanpa biji adalah hama  pemotong bibit salah satunya adalah Gangsir (Brachytrypes portentosus licht) ciri-ciri seranganya adalah apabila bibit atau tanaman muda yang terpotong utuh.contoh lainnya adalah ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn)ciri-cirinya tanaman terpotong dan terlihat dimakan.cara pengendalian pengolahan tanah yang baik,sanitasi lahan,dan penyemprotan dengan insektisida decis 2,5 EC (deltametrin) dengan konsentrasi 0,5 ml/l.selain hama pemotong hama yang menyerang tanaman semangka adalah kutu trips (Trips palmi karny),kumbang daun (aulacophora motschulsky),ulat perusak,daun ,bunga dan buah ,lalat buah (Bactrocera cucurbitae coquilett),tungau merah (tetranychus cinnabarinus boisduval)kutu daun aphids (Aphis gossypii glover).
    Penyakit yang biasa menyerang pada tanaman semangka tanpa biji diantaranya adalah layu fusarium (Fusarium oxysporum f.sp),rebah batang (pythium ultimum trow),Antraknosa,penyakit kresek,layu bakteri (Erwinia tracheiphila E.F.Sm),busuk buah phytophthora,semua penyakit tersebut bias dikendalikan dengan cara sanitasi lahan,penggunaaan varitas yang tahan terhadap penyakit,secara kimiawi dengan penggunaaan bahan-bahan kimia (fungisida/bakterisida dan lain sebagainya). Pencegahan dan pengedalian hama.
          Pengendalian hama atau penyakit bila perlu saja, yaitu bila terlihat gejala ada serangan atau penyakit. Untuk tindakan preventif lakukan penyemprotan 1 -2 kali seminggu setelah tanam, dengan pestisisida , insektisida ,atau fungisida secara bergantian dengan obat dan dosis sesuai anjuran .
    8.PEMANENAN.
         Untuk dataran sedang buah semangka dapat dipanen ± 70-75 hari setelah pindah tanam.
         Hasil tiap Ha ± 25-30 ton Untuk dataran rendah buah semangka dapat dipanen ± 65-70
         hari setelah pindah  tanam
      Tanda-tanda buah sudah tua / masak sebagai berikut :
    - Buah dipukul dengan tangan bunyinya berat
    - Tangkai buah berubah coklat
    - Kulit buah di bawah putih berubah menjadi kuning
    - Saluran yang berada pada ketiak daun pada tangkai buah sudah mengering